CERPEN; RIVAL

0
226
RIVAL
Oleh: Kuni Sa’adah
Suasana malam yang mencekam tanpa bintang, kucingpun tak berbisik, yang ada hanya angin malam yang berhembus mesra dan dihiasi rintikan hujan yang berjatuhan di atap seng, suaranya bagaikan musik yang bertalutan seakan melengkapi keindahan malam, gerimis malam rupanya mampu membius seseorang untuk semakin terlelap tidur disertai angin malam yang mampu meniup pori-pori, membuat mata enggan untuk terbuka. Para santri putra tidur terlelap tanpa ada seorangpun yang masih nongol, yang ada hanya suara-suara aneh (ngorok) bersautan silih berganti seakan meramaikan suasana sepinya malam, khususnya di kalangan pondok putra Al Itqon. Teng…..teng… teng….suara big ben (jam Inggris) berdenting menunjukan pukul 03.00 sepertiga malam, ada salah satu santri yang terbangun karena kerasnya suara big ben milik kyai di ndalem. Kemudian ia berwudlu dilanjutkan sholat qiyamul lail, ia adalah sosok santri yang terkenal rajin beribadah alias sufi, ia juga termasuk santri terpopuler yang sering jadi bahan pembicaraan di kalangan pesantren, khususnya di kalangan pondok putri yang berada di sebelah barat pondok putra. Namanya kang Diqin, setelah sholat ia mengoprak-ngoprak santri lainya untuk sholat malam.
 
“Ayoo kang… podo tangi tahajud, jud…jud…jud…” seru kang diqin. Sayang sekali aksinya tidak berhasil, semua santri masih molor, kemudian kang diqin menuju kantor untuk ngebel. “kriiiiiiiiiiiinnggg….”, bel berbunyi, berharap dapat membangunkan semua santri, misinya itu hanya berhasil membangunkan satu santri saja yakni kang Tob si lurah pondok. “kang tob….kaang….” suara kang diqin memanggil, “dalem, pripun kang diqin?” balas kang tob sambil mengucek-ngucek matanya. Rakyatmu piye iki…. ora ono seng gelem do tangi…. angele pooll gugahane”. keluh kang diqin. “wes ayook digebyur wae gen podo kapok” jawab kang tob. Sebagai lurah pondok dia memang tegas dan disiplin, dia pun disegani di masyarakat pondok Al Itqon. Kang tob menyuruh kang diqin untuk mengambilkan air satu ember dan gayung, kang tob yang mendapat jatah menggebyur santri yang masih molor, biar tau rasa…… “byuuuuuuuurrrrrrrr…… rasa`noo…….ayooo tangi poraa…do molor wae” tegasnya tanpa basa-basi.
 
“byyuuuur……byuuur……” teriak kang diqin semangat 45, misi terakhir rupanya berhasil membangunkan semua santri, kang tob masih berdiri tegak di ambang pintu menunggu mereka bangun tanpa terkecuali, setelah semua bangun kang tob meninggalkan tempat dan kembali ke kantor. ”huuuuh… kemringet kang bar nggugahi bocah-bocah”. keluh kang tob sambil mengusap dahi, “untung sampean ewangi nggugah kang, nek ora paleng durung podo tangi”, ucap kang diqin  “wong kadar trimo udan sewengi ora podo tangi” timpal kang tob. “yowes kang aku arep nang masjid ndisek” ucap kang diqin sambil keluar dari kantor. Setelah sampai di masjid kang diqin menatap jam “oh ternyata masih pukul 04.00 belum tiba waktu subuh” akhirnya ia membaca alqur`an terlebih dahulu itung-itung menunggu waktu subuh tiba, shodaqallohul `adzim….berujunglah bacaan al qur`an kang diqin dan itu tepat waktu subuh, kemudian ia segera meraih microphond untuk mengumandangkan adzan subuh dengan suaranya yang mendayu-ndayu merdu dan berkelok-kelok lincah bagaikan pembalap motor yang handal, rossi kaleeeee……
 
Setiap telinga insan dimanjakan oleh suara merdunya, kang diqin adalah santri terantusias untuk adzan, suaranya didengar oleh seluruh penjuru masyarakat Demak, assholaatukhoirumminannauuuuum….itulah suara adzanya diwaktu subuh. Selain kang diqin ada juga mbah sodri, ia menjabat sebagai takmir masjid yang tidak mau kalah rajinnya dengan kang diqin, mbah sodri sebagai rival ( saingan) ketat kang diqin, mereka sama-sama antusias menyerukan adzan, tapi….bagus kok…patut ditiru tuuuch. Selain mereka berdua ada kang tob, kang kin, kang lin, kang putut, kang luq dan juga dedek amar, oh yaa ada yang ketinggalan, itu tuuuuh bang oji…ups sory lupa disebutin…abisnya si abang sibuk ngaanter gallon siih….jadi terlupakan deeh.
 
Sebelum tiba waktu dzuhur mbah sodri sudah stand bye di masjid, beliau awaluman yang berada di masjid, yaaah wajar dooong namanya juga takmir masjid. “Tuuung…tung…tung…tuuuung…tunng….duuung….duuung….duuung” bedug sudah berbunyi, saatnya tiba waktu dzuhur, mbah sodri bergegas meraih microphond langsung tancap mengumandangkan adzan dengan suara khasnya yang melekuk-lekuk liuk menggema bagaikan jetkoster di Ancol. “Waduuuh…jane arep tak adzani og malah wes didisiki mbah sodri” gerutu kang diqin dalam hati. Setelah usai jama`ah santri hufadz setor unda`an kepada bapak yai, mereka sibuk memperbaiki undaanya biar lanyaaahh. “Kang wes dadi opo durung undaanmua?” Tanya kang tob pada kang diqin yang lagi sepaneng, “Insya Allah wes kang, lha piye ngajak semak-semakan?” balas kang diqin. Setelah undaan santri bebas mau ngapain, kang tob yang hobi molor segera mencari posisi wenak (pw) untuk tidur, sedangkan kang kin kebal kebul sambil melamun di teras kamar, mungkin dia sedang galau atau bisa jadi kangen sama itu tuuuhh…yang ada di pondok tetangga. “Baru saja melamun masak uda ashar?”. Keluh kang kin dengan menginjak tegesan rokoknya, kang tob tiba-tiba lari sambil merapikan kancing bajunya menuju masjid, ia berniat adzan walau masih bau aceem, tapi sesampai di dalam masjid ternyata sudah ada dedek amar, “hooyyy kang  amar iki kan jatahku adzan”, teriak kang tob sambil menghampiri dek amar dengan nafas yang tersengal-sengal tak beraturan. “lhaah kan tekane kene ndisek aku tho kang..”, bantah dedek amar sambil memegang microphond. “yowes…nek ngunu aku seng adzan sampean seng pujian, adil kaaan”, bijak kang tob. “njeh mpun monggo kang sampean seng adzan”, balas amar dengan meenyerahkan microphond, akhirnya kang tob jadi adzan juga, nggak sia-sia perjuanganya dibelain bangun tidur langsung lari ke masjid hanya untuk adzan.
 
          Kang tob memiliki suara khas serak-serak basah, empuk, benyek dikit, yang mampu menggetarkan relung hati kaum hawa khususnya santri putri tetangga. Apabila mendengar suaranya para kaum hawa menjerit histeris bagi yang ngefans, kalo gw sihhh nggak gitu banget…tapi yo ngefans….hehe.  Presiden pondok Al Itqon ini diam-diam pernah tersandung cinta dengan santri pondok tetangga, kayaknya seruu tuuuuh…kalo udah bicara tentang cinta wahhhheemmmmm…..pasti semangat memuncak, wajarlah namanya juga kawula muda..tapi hati-hati lhoooh kalo dipondok putri  tetangga berani bermain cinta berarti harus berani menanggung resiko main lopak-lopak…hehe.
 
          Hari semakin sore, sepertinya sudah waktunya mengisi perut, kang tob yang perutnya udah keroncongan mengajak kang ohim ke warung. “Kang ohiiim….neng warung yuuuuk, wes ngelih iki” ajak kang tob. “ayoooo thoo…tapi lewat siseh pondok putri yoo….nek menowo ketemu pujaan hati” ucap kang ohim nglantur, “akalmu im pinter men.. tak takzir mbuoh” ucap kang tob sok serius. “Takzirane nek ditemokke wonge gelem aku hehe” canda kang ohim. Menjelang maghrib kang diqin sudah duduk manis di dekat microphond, sambil menunggu maghrib ia membaca alqur`an, rupanya mbah sodri sudah menabuh bedugnya, kang diqin tancap gas untuk adzan, padahal mbah sodri sebenarnya ingin adzan juga, mau gimana lagi udah kedahuluan kang diqin siih… “lhaah jebule wes kedisikan kang diqin, yoweslah wong tuwo ngalah” kata mbah sodri dalam hati. Mbah sodri telat siihh…tapi nggak papa mbah…besok juga masih bisa, pantang menyeraah, semangaat mbahh.
 
          Kang diqin tak mau kalah saing dengan yang lain, saking rajinnya sampai-sampai setiap waktu ia selalu ada, apa nggak bosen yaaa? ya bagus lah daripada nggak ada yang mau adzan, patut dicontoh tuuh…. penggemar kang diqin juga banyak lhoo, si cowok berkacamata, tinggi putih, ganteng (ngapusi) dan juga pintar ini di gandrungi banyak cewek….(koyok artis bajakan)…jangan-jangan dia punya jurus terjitu….eiiitsss jangan suudzon…nggak baik pleennd hehehe. Tiba-tiba bedug isya` menggema, kali ini ada peluang untuk mbah sodri adzan…(kesempatan bagus mbah…cepetan pegang mic nya…) akhirnya mbah sodri deh yang adzan… mbak ranti adalah salah satu penggemar suara mbah sodri, Tuhan memang maha adil, ternyata yang tua pun ada penggemarnya….alhamdulilah yaah sesuatu……(syahrini kaleee)
 
          Tiga bulan telah berlalu, tak ada hujan tak ada angin kabar mengejutkan telah mengguncang dunia,  santri yang paling populer di pondok alias kang diqin telah meninggal, eh salah diiing….maksudnya telah boyong dari pondok tercinta. Gimana perasaan para penggemar kang artis yaaah?? kang diqin keluar dari pondok bukan karena bosan adzan atau bukan gara-gara di PHK mbah sodri, tapi karena dia di utus bapak yai ke daerah lain untuk menyebarkan ilmunya, mantabb kaaan???  OK  kaan? hayoooo siapa yang mau  daftar? buruuuaaann setok terbatas…….
 
          “Aku kangenn banget suarane kang diqin, rasane hampa…hidupku sepi…galau gundah resah….gelisah….memikirkan suara mendayu-dayu kang diqin yang lama tak ber suara..” keluh mbak umi sebagai fans beratnya. “Halaaaaahhh nek kangen ndang nyusul konooo, gak usah galau, GITU AJA KOK REPOT…” timpal mbak inuk dengan santai. Setelah kepergian kang diqin mbah sodri dapat adzan kapan saja tapi tetap ada rival-rival yang lain, tak apalah yang penting mbah sodri bisa bernafas lega.

 

Catatan: Apabila ada kesamaan nama tokoh, latar dan cerita, itu hanya karangan fiktif belaka.

LEAVE A REPLY