SETITIK CATATAN DO’A DALAM HIDUP CINTA

1

SETITIK CATATAN DO’A DALAM HIDUP CINTA

Oleh: iif latifah

#

Hembusan udara sejuk mushola Al-mubarok menyambut ramah. Kubuka mushaf tercinta,  kucium penuh ta’dzim sebelum membacanya. Tiba-tiba sepucuk surat itu jatuh, segera kuambil dan kubaca.

 

Mangkuyudan Solo, 23 Februari 2002

Untuk istriku: Nia Azkia

Aku tulis surat ini dengan lelehan air mataku yang tiada berhenti dari detik ke detik. Aku sakit sebab tak lagi bisa membahagiakanmu, aku tahu banyak rahasia takdir yang tak pernah bisa kutebak, semuanya hanya untuk disyukuri karena disetiap huruf yang aku tulis ini tak satupun bernada mengeluh, karena aku tahu kau tak suka itu. Dalam sepertiga malamku aku selalu mengaduh pada Tuhanku, masa kapan diri ini bisa membahagiakanmu duhai kasihku. Aku sakit, karena tak tahu lagi bagaimana membalas setiap jengkal arti sabar yang tak henti menghujaniku, juga setiap hari detak kasihmu yang begitu sejuk mengaliri setiap nafas hidupku. Aku tak lagi bisa membahagiakanmu, aku hanya sampah, sampah tak berguna itu lebih baik jika Allah mengambil saja nyawa ini. Maafkan aku. Doaku yang tak pernah putus, ketika kau baca surat ini, mungkin saja pandangan mata ini telah meredup. Seperti biasa hanya beberapa lembar.

“Matur nuwun, niki sampun cekap.” Kata lembut itu yang selalu membuatku tak berhenti berucap syukur, bersyukur karena ridho-Nya mempertemukan dengan mu yang sabar, qonaah, lembut dalam bertutur kata. Dan terakhir dek nia azkia. Selamanya, aku mencintaimu.

Suamimu                                                                                                                                      Ahmad Fahmi Fuad

Usai membaca surat aku betul-betul menahan isak sampai sulit rasanya bernafas.

Setelah berjamaah solat magrib aku tahan agar air mata ini tak lagi menetes. Allahuakbar… A llahuakbar … Allahuakbar… Takbir idul fitri mengalun jelas nan indah ditelingaku, aku tak boleh menangis  dihari bahagia ini, aku harus kuat, harus  mampu melawan rindu yang tak lagi berarti ini. Semoga semua ini karena Allah dan Allahpun akan menguatkanku. Amin.

#

Lima belas tahun dan tak sekalipun aku bosan menatapmu. Pagi penuh berkah, aku tersenyum memandang wajah yang teduh penuh kewibawaan sedang tertidur pulas diatas sajadah yang tak lagi anyar. ” Semoga sakinah, mawaddah dan rohmah itu selalu Allah hadirkan disetiap jengkal rumah tangga kita, amin.”  Do’aku dalam hati. Sebelum berangkat aku letakkan tulisan disamping nasi goreng sepesial buatanku dan teh hangat yang bertuliskan, “Nuwun sewu kang mas niki enjeng mboten pamit salim kaleh njenengan.”

Nia azkia itulah nama lengkapku. Tragedi dua tahun silam menggariskanku s ebagai ibu rumah tangga dan mencukupi segala yang perlu. Aku anggap semua ini sebuah keberkahan dan selalu tak henti mengucap syukur akan hal ini. Toko Syafa’at samping rel kereta api Tanggungharjo adalah aktifitas  keseharianku, mulai dari mencetak buku majalah, mengkliping tugas anak sekolah, foto kopi, dref foto, pengetikan, pulsa online, itu semua refresing bagiku. Aku harus pergi ke toko segera setelah subuh, karena pesanan cetak majalah muslimah dari Pondok Al-Irsyad Tanggungharjo harus selesai hari ini juga. Harus always be on time. Engkau sendiri yang mengajarkannya padaku bukan? Harus diselesaikan dengan maksimal dan tepat waktu supaya atasanmu puas dengan etos kerjamu begitu nasehatmu. Pagi tadi aku sampai lebih cepat dari biasanya.  Suasana pasar memang terlihat masih begitu lekang karena terlalu pagi. Tak lama waktu pun berlalu, alhamdulillah cetak 300 majalah akhirnya selesai dengan on time. Kulihat arloji ditangan kiriku sudah menunjukkan pukul setengah delapan hampir telat, karena masih ada yang belum rampung yaitu, mengkliping tugas makalah anak SMP budi luhur. Sambil merampungkan ku rasa pagi ini orang-orang jadi lebih ramah dari biasanya. Semuanya. Pakde Rahmat penjual kain batik bahkan tersenyum padaku dia bilang, “Assalamualaikum, monggo bu ustadzah.”  Aku tersenyum dan berkata, “Njeh? Wa’alaikumsalam pakde.”

Orang-orang di pasar Ngembel Tanggungharjo suka memanggilku begitu, tak enak hati sejujurnya dengan panggilan ustadzah, tapi terserah mereka saja, senyaman mereka. Mungkin saja karena aku dan kang fahmi mengabdi guru mengaji anak laju di dusun Tanggungharjo.  Juga agenda rutin dua tahun sekali mengadakan syukuran kecil-kecilan khataman. Mbak Nunung penjual gorengan tahu petis juga ramah betul. Ia bercerita tentang anaknya yang bulan depan menyelesaikan S2 nya di Universitas Negeri Semarang. Aku senang mendengar ceritanya kang, jadi teringat Hasan anak kita satu-satunya yang 3 bulan lagi lulus kelas 6 Mi Jepara, juga tasyakuran khataman bil-hifdzi. “subhanallah.” Batinku.

Ada juga bu Titin yang sebentar menghampiriku. Dia bilang, “kok firasatku hari ini kamu bakal dapat bonus ples-ples dari atasanmu ya bu?”

“Hehe mboten ngertos Bulek?” jawabku singkat.

“Yo ngnene ki lah bu wong jowo okeh firasate, kamu kan yo wong jowo toh bu, asli Mangkyudan Solo toh? Masak orak ono firasat!”  Kami tertawa bersama kang.

#

“Nuwun sewu kang mas, ndek enjeng mboten pamit salim kaleh njenengan.”

Lelap betul tidurmu. Tentu engkau lelah,setelah menghadiri undagan Qori’ yang sampai larut malam diacara Isro’ Mi’roj malam tadi. Sedikitpun tak kan lelah aku menemanimu.Tapi engkau tau kang, hari ini aku begitu bahagia. Atasanku puas dengan hasil kerjaku, aku dapat bonus banyak. Wah titis firasat bu Titin itu kang, Alhamdulilah pagi penuh berkah.

Tiada sabar matahari seperti diganduli malaikat, hari terasa berat, waktu sepertinya berjalan begitu lambat. Dan akhirnya, Alhamdulilah, wasykrulillah asar pun tiba. Aku tadinya ingin langsung pulang. Tapi aku berubah fikiran, sebelum pulang aku harus beli sesuatu buatmu. Apa saja. Aku ingat engkau pernah mengatakan, bahwa kopiahmu yang hitam oleh-oleh dari Pak Rahmat bos batik dari haji sudah rusuh, dan perlu yang baru. Aku cari dirumah belanja keluarga Sugihmanik tak ada. Aku keluar masuk toko, keluar masuk kios, tak ada kopiah yang hitam bermotif kang, memang ada beberapa, tapi aku mau paling bagus. Paling bagus buatmu kang Fahmi. Aku ingin kau bahagia melihat surprize dariku. Mungkin ini yang pertama, paling bagus, lembut, engkau tau kenapa? Sebab telah engkau berikan yang terbaik buatku. Selama ini kau begitu sangat menyayangiku, selau menghawatirkanku kalau aku sakit, hanya yang terbaik buatku dan Hasan. Cintamu, semangatmu, nasihatmu, sabarmu, lantunan ayat-ayat Allah dari bibirmu, itu semua yang slalu membuatku untuk selalu rindu walau 15 tahun bukanlah waktu singkat.

Ketidakmampuamu meminta apa-apa dariku selain memberi, jadi engkau pantas mendapatkan kopiah terbaik. Satu jam aku keluar masuk kios dan Alhamdulillah akhirnya aku dapat kopiah itu! Aku dapat kang, ini bagus, aku yakin kau pasti suka. Rasanya aku ingin segera sampai rumah, aku membayangkan engkau tersenyum bahagia mendapat surprize yang pertama dariku. Aku beli saja tanpa tawar menawar. Enggak tau hatiku tak sabar ingin segera sampai rumah.

#

Matahari tak seangkuh 4 jam yang lalu. Sore ini tersa lebih ramah, perjalanan pulang pun tak terasa melelahkan, hampir sampai rumah, dimuka sebuah rumah, tapi kenapa dengan orang-orang itu, mengapa mereka berlarian dan berteriak,    “lari……!!! Lari……!!” kata mereka lari ? Mengapa aku gamang? Angin begitu menderu-nderu terlihat seperti marah, wusss …! lagi.lagi. Tak henti-henti hebat sekali. Amukan angin itu mengobrak -ngabrik semuanya atap-atap rumah runtuh, orang-orang berhamburan keluar rumah.  “Lari Azkia…lari…ada Angin muson! Angin ribut! Jangan hanya berdiri diam disitu…!!!” Teriak seseorang. Aku semakin gamang melihat semua runtuh, semua orang berlari- lari, bertabrakan, suara tangisan, “Awas roboh…roboh…kau minggir “  dan bruk,kayu itu menimpaku,kemudian gelap gulita aku tak merasakan apa-apa lagi,yang tersisa hanya sakit yang luar biasa pada diriku,aku seperti  tidak bernyawa. Aku kangen, aku ingin segera sampai rumah, aku rindu senyum penuh keteduhan itu.

Ketika aku tersadar aku segera bangun dan melihat sekeliling,

“MasyaAllah…..!!! Apa yang sudah terjadi? ” Baru aku akan membuka mulut dan bertanya orang-orang berhamburan lari, angin itu benar-benar mengobrak-abrik. Semua orang panik berlarian, bergandengan, terjatuh, terguling.   “Azkia…..!!! “Teriak seseorang, aku memandangnya, “Itu roboh……!!!Kia…..!! Suamimu…..suamimu….” dia lantas lari meninggalkan aku.

“Maafkan aku tak sempat pamit tadi pagi kang, maafkan aku tak sempat menyiapkan tongkat penopangmu”

Aku berlari bak kuda pacu, seperti serigala mengejar mangsa, aku berlari, berlari….berlari saja…”Astaughfirullah……!!!” Jeritku. Rumah kita sudah hampir runtuh, sudah sebagian. Aku mendobrak pintu kamar sekeras yang aku bisa. “Kang……!!!”  Jeritku sekuat tenaga saat melihatnya terlanjur tertimpa banyak runtuhan rumah. Aku panik.  Aku langsung berlari memeluknya, “kang….? Kang baik-baik saja kan ?”  kupandangi matanya.  “Aku disini kang, ayo buka matamu aku disini,” kataku pelan. Perlahan jemariku menyentuh alis,mata,dan pipimu. Taka da cahaya disitu pucat pasi. Kau terbaring dipangkuanku dengan mata terpejam, lebih dalam dari biasanya, sama sekali tak terusik oleh pandanganku yang begitu lama tak berdalih darimu. Juga tak terganggu oleh elusan tanganku di pipi dan matamu. Tiba-tiba ibu memelukku dari belakang. “Ibu tak sempat menolong kang fahmi nduk tidak sempat kami tolong.Terlambat, maafkan kami semua.”

“Tidak…..!!! jangan tinggalkan aku.”Jeritku sekuat tenaga.

“Kamu jahat, bukankah kita sudah berencana menghadiri wisuda khatamannya Hasan, kenapa kamu ingjkari janji itu, kenapa kau begitu cepat meninggalkan kami berdua, “bangun kang…!!!” Jeritku semakin menjadi.

“Istighfar nduk, istighfar kamu yang ikhlas ini semua kehendak Allah.” Ibu  menenangkanku . Aku terdiam kupandangi lama kang Fahmi, yang 15 tahun bersama suka maupun duka. Lagi-lagi aku merasa gelap gulita, sunyi pekat, perlahan pandangan mataku meredup. Waktu aku bangun, orang itu sudah pergi aku masih dirumah kita. Rumah yang sebagian sudah diporak porandakan oleh angin. Engkau diam saja kulihat tongkat penopangmu masih tergeletak ditempat yang sama persis seperti ketika aku pergi tadi pagi. Maafkan aku, karenaku kau berjalan dengan tongkat. Aku tidak pernah menyangka engkau bisa diam tak bergerak, kubelai kaki-kakimu yang kurus semua karena kesalahanku. Andai saja aku melarangmu keluar malam itu, mungkin saja kecelakaan itu tidak akan pernah terjadi.

“kang Fahmi bangun, aku disini sekarang” kataku pelan. Air mataku tiada berhenti meleleh hingga jatuh diwajahmu yang tak lagi hangat. Aku genggam jemarimu yang kaku dan dingin. Aku tidak pernah tau bahwa tanganmu bisa seperti ini, alangkah dinginnya ketika ku cium, dan ketika itu pula aku baru sadar kita sudah berpisah. Kau yang selama hidupmu hanya kau gunakan untuk memberiku perlindungan kini telah tiada. Selamat jalan sayang. Selamat jalan. Selamanya, aku mencintaimu.

3 BULAN KEMUDIAN,

Suara itu terdengar jelas ditelingaku, “Peserta terbaik khotimat bil-hifdzi tahun 2002 diraih oleh Hasan Faisal Fahmi.

Subhanallah, walhamdulillah. Nikmat yang benar-benar haq darimu Ya Allah. Lihatlah kang Fahmi, Hasan peringkat pertama. Aku yakin kau pasti tersenyum bangga melihatnya, walau ku tak lagi bisa melihat senyum indah itu. Gumanku dalam hati.

Usai acara Hasan mendekatiku, aku peluk ia erat-erat.  ‘’Selamat nak, selamat atas keberhasilanmu uma bangga denganmu sayang, ini uma punya hadiah ‘’

Dengan semangat langsung diraihnya kado itu.  “wah ini bagus  banget mah kopiah hitam juga bermotif, terima kasih mah. “Mah abah dimana dari tadi belum kelihatan,belum mengucapkan selamat buatku,”

Tiba-tiba “deg” jantung ini terasa terhenti berdetak mendengar pertanyaan itu. Aku peluk Hasan begitu erat, erat sekali tak terasa air mataku begitu deras menghujani pipi hingga menetes  membasahi punggung Hasan.

 

Selesai   

You might also like More from author

1 Comment

  1. rizqi alfy says

    Mbk Iif…Keren… (y)

Leave A Reply

Your email address will not be published.