CERPEN; SETITIK FADHOL GUSTI PANGERAN

0

Oleh: Iif latifah

 Bismillah, saat kekuatan cinta mulai memekar dalam relung jiwa, apa daya aku hanya mampu beradu bertatap lamat lamat pada ujung sajadah biruku, tiba-tiba air mata ini menggelayut diujung tirai pengelihatanku, kenangan dimasa itu kembali menyapa.

#

          Malam Minggu kelabu, tak satupun cahaya bintang menghiasi taman langit dunia, seperti malam-malam yang pernah berlalu, aku melancarkan aksi bejatku bersama sahabatku Rohman. Aku menenggak minuman setan itu berkali-kali, sembari menunggu seorang yang datang, melewati jalan towang ujung desaku.

“Ziz…!, loe minum dulu Ziz, biar fresh.”

Pinta seorang temanku. Tanpa berfikir dua kali aku langsung menenggak minuman setan didalam botol hijau itu.

“Aziz…!Aziz…! Segitu saja kau minum.”

Protesnya melihat beberapa teguk saja aku meminumnya, karena geram oleh ejekan Rohman, aku kembali menenggaknya berkali-kali. Lama kami menggu dari kejauhan terlihat sosok gadis anggun berjilbab biru berjalan melewati tepat dimana aku dan Rohman nongkrong menunggu mangsa. “Mangsa empuk Ziz!” Tanpa berfikir panjang aku langsug menghadang muslimah lugu itu dengan mengacungkan sebilah belati tajam kearahnya. Namun gadis itu tetap menunduk tanpa sedikitpun menatapku, tapi tampak terlihat jelas gadis itu ketakutan dan tubuhnya yang tertutup gamis anggun itu menggigil seperti kedinginan.

“Maaf, kalian mau apa? Salah saya apa?.” Tanya gadis itu disela ketakutannya sembari menatapku, mata indah beradu pandang, pandangan kami bertemu, dan ces!, Ada setetes embun dingin menetes dihatiku, kurasa tubuhku bergetar. Dengan sangat halus perasaan itu perlahan menyusup relung hatiku, aku benar-benar terdiam dalam penghayatan,

“Ya ampun, sumpah gadis ini cantik banget, putih bersih wajahnya, matanya bening, bulu matanya lentik, dan keteduhan wajahnya,” Gumanku dalam hati.

Tiba-tiba aku tersentak kaget ketika Rohman menepeuk punggungku. “Dasar Aziz bodoh! Loe kelamaan Ziz! Sudah sana loe nyingkir, biar gue saja yang tanganin cewek tolol ini. “Hai cewek! Banyak bacot loe, serahin uang loe!” Bentak Rohman teman beraksiku malam itu, dia langsung merampas bungkusan plastik  hitam yang tergenggam ditangan gadis itu, karena ancaman dari belati dia tak berani melawan, pasrah melihat bungkusan berisi uang itu kami rampas.

“Astaghfirullah, uang itu untuk ibu mas…!” ujar gadis itu sembari menangis. Entah kenapa rasa tak tega menyelimuti hatiku kala melihat gadis itu meneteskan air mata menerima perlakuan dari Rohman.

“Man! Loe serahin lagi aja deh uang itu, kasihan tuh dia nangis paling juga uangnya tidak seberapa. Coba loe perhatiin, dari penampilannya aja sudah lusuh begitu, dia tuh cewek kere Man! Udah kembaliin aja.” Pintaku pada Rohman

“Aziz…! Aziz…! Loe goblok atau pra-pura goblok, biasanya loe paling ganas dari gue kenapa loe, lagi kesambet malaikat penjaga surga loe!” Tiba-tiba hujan turun begitu deras gemuruh diujung malam yang bisu. Kami segera pergi meninggalkan gadis itu dengan mengendarai Suzuki Smash 110 Rohman depan dan aku dibelakang motor melaju perlahan, kuperhatikan gadis itu masih menangis terisak-isak, ingin rasanya aku mengusap air matanya tapi, sudahlah apa-apaan aku ini gak penting mikirin cewek lusuh, kere seperti dia.

#

          Rohman membuyarkan lamunanku. “Ziz, uang ditangan tinggal sepuluh ribu, kita harus berfikir cara bagaimana kita bisa menyambung hidup.” Ujar Rohman dengan kesal sembari membuang bungkus rokok Djarum super yang telah habis. Akhirnya aku dan Rohman kembali melaksanakan maksiat, kali ini kami nge-tem tak jauh dari pedesaan hanya berjarak beberapa meter saja dari rumah warga. Ditengah gelapnya sang malam aku merampas uang dari korban kebejatanku, kali ini seorang ibu-ibu separoh baya, namun kami tidak beruntung, aksi bejatku terlihat oleh seorang warga, karena teriakannya yang begitu  melengking, kentong pos ronda dibunyikan. “Tong,tong,tong… maling…, maling…, maling…,!” Seketika warga berduyung duyung menuju asal sumber suara dan langsung mengeroyok kami berdua.

Setelah kejadian itu aku tak merasakan apa-apa pada diriku, yang kulihat hanya kegelapan sang malam dan sakit yang luar biasa disekujur tubuhku. Sekuat tenaga aku memanggil sahabat karibku, “Man…! Rohman… kamu tidak apa-apa.” Suaraku terdengar lirih, berulang kali aku memanggilnya namun tidak ada jawaban. Kulihat bintang bertaburan begitu indah menghiasi malam yang begitu sunyi. Perlahan pandangan mataku meredup.

#

          Saat aku membuka mata, sayup-sayup aku dengar ada suara dari seorang wanita tua yang membaca kitab suci yang diturunkan kepada nabinya. Sudah lama aku tak mendengarnya, kali ini sungguh begitu  menyejukkan kalbu kala beliau melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an. Aku melihat suatu kenehan, aku mengamati sekitarku ternyata aku berada dalam satu rumah yang lebih pantas disebut sebagai gubug reot. Wanita itu mendekatiku, “Siapa loe? Gua dimana?” Tanyaku pada wanita tua itu.

“Nak kamu masih belum sembuh betul, kamu masih harus istirahat. Panggil saja aku Rodiyah.” Lalu nenek itu bercerita tentang dia yang menemukan aku tak sadarkan diri ditengah malam, dengan sekuat tenaga dia berusaha mengangkatku bersama putri semata wayangnya yang bernama Arifa Nailatus Syifa. Wanita itu bercerita tentang anaknya yang baik hatinya, selalu ceria, halus perkataannya, sabar, dan penuh pengertian hingga membuat siapa yang diajak bercerita akan menyukainya. Usai wanita itu bercerita, “Rohman…! Rohman dimana?” Aku mulai teringat sahabatku. Lalu wanita tua itu bercerita tentang Rohman yang tak lagi bernyawa. Hati ini bagai tersambar petir mendengarnya, aku masih tak percaya secepat itu Rohman meninggalkanku, aku begitu menyesali perbuatanku dan andai aku boleh memilih, aku ingin memutar kembali waktu. Aku menangis dan wanita tua itu menatapku dengan nanar. “Bu, apa Tuhan mau memaafkan aku?” Wanita tua itu tersenyum kemudian, “Menangislah sampai hatimu tenang, sebesar apapun kesalahan kamu, Tuhan pasti memaafkan kamu, kamu harus yakin akan hal itu.”

#

          Asshalatu khairummminannaum…, Asshalatu khairummminannaum…, Adzan Subuh terdengar mengalun merdu ditelingaku, kulihat langit masih gelap, angin semilir menerobos masuk dengan mudah melalui jendela yang tak lagi ada pintunya. Jam menunjukkan pukul lima kurang dua puluh menit, memang seharusnya sudah masuk waktu sholat Subuh, “Nak, kamu mau ambil wudlu?” Tanya wanita berparas menyejukkan itu. Aku menganggukkan kepalaku. “Bu, panggil aku Aziz.”

“Aziz? Nama yang bagus, mari ibu antar kamu ke sumur.” Aku langsung beranjak dari tempat tidurku dan berjalan bersamanya menuju sumur belakang. Tiba-tiba mataku terpaku melihat sosok gadis lugu yang linglung disamping pintu rumah sederhana itu, kuamati dalam-dalam sepertinya aku pernah melihat gadis itu, dia jauh berbeda hingga membuat memoriku bersikeras mengingatnya, tapi tak juga ku ingat, dia tampak begitu lusuh dan tak terawat, baju yang dikenakan begitu kotor. Tanpa menunggu waktu, aku bertanya pada Bu Rodiyah tentang gadis yang terlihat didepanku itu. “itu? Itu Nela.” Jawabnya singkat. Aku tercengang mendengarnya, “Ini keceriaan yang ibu maksud?” Bu Rodiyah menitihkan air mata mendengarkan pertanyaanku. Langkah kami terhenti dan beliau pun mulai bercerita.

Keadaan Nela seperti itu karena kebejatan dua orang perampok yang entah mereka masih punya hati, tepatnya diujung towang desa petaka itu bermula. Seketika nafasku terhenti mendengar jawabannya. Aku baru ingat gadis yang membuat jantungku berdesir hebat tak lain adalah Nela korban kebejatanku bersama Rohman. Aku menunggu kalimat selanjutnya yang akan keluar dari bibir sucinya. Dia pun mulai bercerita tentang suatu malam, saat ia sakit dan kondisinya semakin memburuk, Nela ingin membawa ke dokter namun, karena tak sepeser pun uang yang mereka punya, akhirnya Nela pergi ke Bank untuk meminjam uang demi kesembuhan ibunya. Dan saat perjalanan pulang maka petaka itu terjadi, Nela dicegat dua bajingan dan merampok uang pinjamannya, ia tak berani melawan karena ia hanyalah seorang gadis yang lemah tak punya daya. Sampai di rumah ia hanya menangis. Setelah kejadian itu, kondisi sang ibu semakin memburuk, akhirnya ia mengambil jalan pintas, dengan menjual diri demi mendapatkan uang untuk biaya pengobatan dan melunasi hutang. Saat Bu Rodiyah sembuh Nela berhenti menjual dirinya, tapi ada yang berbeda dalam diri Nela, dia terlihat murung dan sering marah-marah kadang juga tertawa sendiri, hari berganti minggu, minggu berganti bulan, Bu Rodiyah baru tau kalau selam ini Nela menjual diri.Nela mengalami Depresi yang begitu tinggi hingga mengalami gangguan jiwa dan kehilangan semua memorinya. Setelah mendengar cerita itu hatiku hancur dan nyaris tak lagi berbentuk. “Aku tau dua bajingan itu adalah aku dan Rohman.” Gumanku dalam hati.

Seketika aku tersungkur dibawah kaki Bu Rodiyah mengucurkan air mata kotorku “Kenapa semua ini terjadi? Kenapa harus Nela yang jadi korban? Perlu Ibu ketahui, aku sempat bertemu Nela, dan baru sadar jika aku menyayanginya bahkan lebih dari diriku sendiri, memang taka da keberanian buatku untuk sekedar berkata pada Nela, karena aku adalah orang kotor, orang yang penuh dengan dosa entah Tuhan mengampuni diriku atau tidak. Tapi kenap? Sekarang aku dipertemukan pada keadaan yang sangat jauh berbeda?” Tangisku semakin meledak-ledak dibawah kaki Bu Rodiyah.

“Berdirilah nak, berhentilah dari tangisanmu itu, kau yang tabah, percayalah Tuhan pasti berikan yang lebih baik buatmu, bersyukurlah karena sekarang Tuhan sedang memberi pemahamam buatmu, tentang apa arti ikhlas dan sabar.” Aku semakin tersedu mendengar bait-bait indah dari muslimah renta itu.

“Ibu? Bolehkah aku memanggilmu ibu?”

“Tentu nak, aku akan menyayangimu seperti hal nya tuhan begitu mencintaimu.” Bu Rodiyah tersenyum kemuan memegang dan membelai kepalaku.

#

          Ditengah keremangan malam aku menulis curahan hati untukmu yang selalu aku rindukan kesembuhannya.

25 Maret 2005.

Lihatlah Nela, dalam penantian panjang ini aku selau berdo’a untuk kesembuhanmu, kebahagianku adalah ketika aku masih bisa merawat, menjaga dan selalu membuatmu tersenyum, itulah arti kebahagiaan bagi diriku. Aku hanya orang kotor penuh dengan dosa. Wanita sepertimu hanya diperuntukkan untuk laki-laki yang juga baik akhlaknya. Tahukah kau, aku selalu berusaha untuk itu. Cantikmu bukan alas an mengapa aku menginginkanmu. Tutur lembutmu bukan satu-satunya alasan mengapa aku mencintaimu dalam diamku. Akhlak baikmu yang membuat hatiku terpaut dan terpaku, walau aku tahu hanya sekedar cerita dari Ibumu. Hati kecil ini yakin, kau adalah yang terbaik. Jika benar-benar aku merasakan apa itu cinta, do’aku untukmu, semoga Allah senantiasa memberimu segera kesehatan lahir batin, semoga Allah meridhoi dan menyatukan kita. Itulah harapan terbesarku. Aku titipkan hati dan diri ini pada siapapun yang Allah pilihkan. Aku harap itu kamu Nela.

 

Minanul Aziz

Yang dirundung Nestapa

 

#

Tirai kabut perlahan memudar, menyingkap berjuta keindahan pagi penuh berkah. Demi Bu Rodiyah dan kesembuhan Nela, silih berganti mendatangi industri perusahaan, menawarkan tenaga sebagai satpam atau sekedar cleaning servise, namun silih berganti juga penolakanlah yang ia dapat. Waktu berjalan serasa begitu cepat, tiga minggu sudah penantian terhadap pekerjaan, taka da satupun yang mau menerima. Dalam sepertiga malamku aku mengadu, duhai Allah aku lelah, Tapi aku kuat karna Asma-Mu yang Agung bersamaku, aku tidak akan putus asa. Maha suci engkau dengan segala rencana-Nya. Setelah berihktiar semaksimal mungkin akhirnya ada tetangga yang menawarkan jasa pekerjaan sebagai penjaga toko bangunan yang isinya alat berat dan elektronik. Alhamdulillah, Allah selalu punya rencana indah yang memang disediakan untuk hambanya yang selalu berikhtiar. Enam bulan bekerja, selama itu pula Bu Rodiyah selalu membimbingku menuju kejalan yang engkau ridhoi. Aku selalu dekatkan diri ini pada tuhanku, dengan tak lelah aku panjatkan doa untuk kesembuhan Nela yang saat ini masih duduk didepan pintu dan menatap malam yang masih tak berbintang. Kali ini aku benar-benar merasakan keteduhan yang hampir tak pernah kurasakan sebelumnya. Aku merasaka keteduhan kedaimaian yang luar biasa yang kurasakan saat aku memakan sesuatu yang halal yang tidak dilarang oleh tuhan, meski sekarang aku hanyalah seorang buruh disebuat toko bangunan, namun aku bahagia saat hasil keringat yg halal ini dapat menghidupi Nela dan Bu Rodiyah. Dan semoga Allah selalu bersama orang-orang yang sungguh dalam berusaha.

 

——–sekian———-

“Kesungguhan dalam berusaha mencerminkan keseriusan untuk mencapai hasil yang istimewa”

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.