Cerbung; THE MIRACLE OF HUBB FIL INTHIDHAARIY (3)

0
THE MIRACLE OF HUBB FIL INTHIDHAARIY
Oleh: wirdatun nisa’

 

“Abang…”

Si laki-laki menoleh,

“ Eh abang Faqih… saya kira abang rizqi…”

“Tidak apa-apa kok ukhty… J”

“Bang Faqih sendiri???…”

“ Iya…. Ayo masuk ukh….!” Sambil membukakan pintu.

“ Syukron bang…”

“ J “

Mulanya didalam mobil kami saling diam, bang faqih mengerti keadaan ini jadi dia yang memulai dulu membuka pembicaraan.

“ Ukhty…???”

“ Ya.. “

“ Sudah lama nyantri di sana???”

“ Iya lama….”

“ Wah.. ilmunya banyak dong…..”

“ Ah.. ndak juga masih sedikit ini bang….”

“ Sudah berapa lama????”

“ Sudah lama deh bang pokoknya…”

“ Dulu saya juga pernah nyantri di pesantren deket pesantrennya ukhty… makanya abah suruh saya buat nyambang ukhty, kadang-kadang sih…”

“ Wah…. Abang pasti mengenal dong santri di tempatku???”

“ Dulu ada sih… tapi, saat itu dia masih sangat kecil… ya ndak kecil-kecil sekali sih… mungkin kalau sekarang ya… kayak saya sama ukhty…”

“ Ehmmm…. Siapa namanya bang?”

“ Kurang tau sih Ukh… tapi biasanya dia dipanggil Rara..”

“ Rara???!!!!”

“ Ya ada apa ukh???”

“ Tidak bang…”

“Sampai sekarangpun kalau diizinkan sama Allah, maunya sih ketemu lagi sama ukhty masa laluku itu…. Jadi pengin tau gedenya kayak gimana?…”

“Amiiiin…”

Aku sangat kaget, karena panggilan “Rara” sangat mirip sama panggilan kecilku, rumah semakin dekat dan bang faqih pun membelokkan mobil sampai depan rumah, aku turun dan lagi-lagi mengucapkan terimakasih. Saat aku turun dari mobil tiba-tiba… “Gubrak” dan bang faqih pun langsung keluar menyusulku.

“Ada apa ukh???”

“Tidak bang, tidak ada apa-apa….” Melihat keadaanku yang sudah masuk kedalam selokan bang faqih mengulurkan tangan untuk menolongku, mau nggak mau akupun menerimanya.

“Astaghfirulloh ukhty….. ukhty pakai sepatu???”

“Hm…. “

“Lain kali hati-hati ya ukhty… dan jangan pakai sepatu, jadi kotorkan…..”

“ Ya Allah kata-kata itu….”

“Kenapa ukhty….”

“ Eh tidak bang, Syukron akhy….. terimakasih atas nasihatnya…”

“Ya Allah, kok sama ya…..” gumamnya.

“Kenapa bang??”

“Ukhty, sebenarnya ada yang ingin saya pastikan… tapi lain waktu saja, sebaiknya sekarang ukhty masuk dan ganti pakaian”

“ J, iya sekali lagi syukron akhy…. Permisi, Assalamu’alaikum..”

“Wa’alaikumussalam… J”

Aku masih bingung dengan kejadian aneh tadi sore, ada yang aneh sama bang faqih, aku merasa ada sesuatu rasa jika ada dia, tapi entah apa itu dan rasa penasaran akan hal-hal aneh yang lain semakin kuat saja, setelah banyak hal yang terjadi aku menjadi berfikir jika bang faqih itu adalah akhy Ridwan, aku harus mencari tahunya.

Hari ini mungkin bisa aku jadikan hari untuk mengklarifikasi semuanya, hari ini abah akan ke Kalimantan diantar kai sekeluarga beserta abang dan istrinya. Kami semua sudah siap dan berkumpul, setelah sarapan dan berdo’a bersama kami mulai membagi tempat, abang dan mbak Ani semobil sama om dan tante, sedang aku, abah, dan umi, satu mobil, sama bang faqih juga.

Sampainya di Bandara kami mengharu biru melepas kepergian abah, setelah pesawat lepas landas kami bubar dan langsung pulang, eh…enggak ding… mobil abang mau mampir ke Rumah makan dulu karena pada laper, tapi aku rada pusing kepala jadi mau langsung pulang aja, jadi umi ikut mobil abang deh,,, terus yang nganterin aku siapa dong…? Ya siapa lagi.. bang faqih harus ikhlasin buat antar aku pulang, akhirnya umi ngebolehin tapi ya pastinya dengan syarat dan ketentuan yang berlaku, melihat kami yang memang bukan muhrim.

Sudah hamper 15 menit di Perjalanan kami masih diam, bicara dalam hati dan fikiran sendiri-sendiri, seperti dulu… kali ini bang faqih juga yang mulai bicara duluan,

“ Masih pusing ukh….??? ”

“ Sedikit sih bang, memang ada apa ? ”

“engga, Cuma mau Tanya sesuatu, boleh..?”

“ oh.. silakan lagi bang.. gak papa kok..”

“ Beneran… gag papa… ya udah dimulai dari mana ya ukh….”

“ Terserah abang saja..”

“ Mengenai apa yang kemarin saya katakan, begini… dulu waktu saya nyantri dideket pesantrennya ukhty.. saya pernah ada hati sama salah satu santri pondoknya ukhty.. mungkin dulu saya dan dia belum saling kenalan, saya tidak tau nama aslinya, yang saya tau hanya nama panggilannya saja, itupun dari teman-teman.”

Aku hamya terdiam.

“ Lalu suatu ketika ada kejadian, dia jatuh dan masuk ke selokan, tak tau ya ukhti.. saya reflek dan berlari mengulurkan tangan, entah itu perbuatan tepat atau tidak saya belum mengerti betul, karena saat itu saya masih santri baru kelas satu wustho, dan dia juga baru kelas empat madin, dan sungguh hari itu sampai hari ini belum bisa saya lupakan”.

“ ehem… maaf sebentar bang… apa perempuan itu memakai sepatu…?”

“ iya betul sekali… maka dari itu aku berpesan padanya agar jangan lagi memakai sepatu,”

Aku kaget… “ Te.. terus apa saat itu ia bersama satu orang temannya..?”

“ sepertinya iya.. Karena temannya sempat menjerit.”

“ ya Allah…”

“ kenapa ukh…”

“ Tidak bang… dulu sayapun pernah mengagumi, istilah anak-anaknya ya ngefanslah sama santri putra pondok sebelah, Sama seperti abang tadi bahkan ceritanyapun hamper sempurna menyerupai cerita abang”.

Bang faqih terlihat kaget. “ ee…. Saya jadi berfikir yang tidak-tidak nih ukh.. tapi takut ke-PeDe-an”

“ sayapun begitu bang..”

“ ya Allah… jika hari ini telah Engkau kabulkan do’a hamba.. hamba terimakasih sekali ya Allah.. “

“ J Kok Berhenti bang… Kenapa ?”

“ Sebentar ukh… sebelumnya saya minta maaf, boleh saya pandang wajah ukhty…?”

“ untuk apa bang…”

“ untuk meyakinkan.. apa memang benar ukhty kecil masa laluku itu…”

“ emmm.. tapi aku suka malu bang.. aku tutup mata saja.. tapi ingat abang harus janji ngga boleh aneh-aneh, kita ini belum muhrim..”

“J ya ukhty… ( belum muhrim…berarti akan jadi muhrim dong…hhe)” katanya dalam hatii”.

“ udah belum bang..?”

“ subhanallah ukh… sama.. tapi yang dulu lebih unyu-unyu J”

“emmm… Apa mungkin abang ini… akhy.. Ridwan ???” hati-hati ku ucapkan.

Bang faqih pun terdiam.. “ maaf ukh… saya ini faqih…”

“ L “

“ Ridwan Faqih Maulana Asyfi, dan biasa di panggil Ridwan dulu waktu masih di pesantren” jawab bang faqih.

“ sungguh kah itu bang… abang ini akhy ridwan..?”

“iya ukhty…”

“ ya Robb.. Syukurku padaMu.. yang kunanti, yang kutunggu, telah Engkau kirim…,Betapa rasa itu membahagiakan, suatu karunia yang Maha luar biasa”

“J”

 

16 Januari ‘19

2 tahun setelah tragedi bahagia itu, Alhamdulillah aku selesai mengaji dan sudah kudapatkan syahadah bil Hifdzi untuk kupersembahkan kepada Abah dan umi, kebahagiaan itu datang lagi ketika sang rama datang menjemput cinta dari dewi sinta, ia datang dengan maksud menyatukan cinta yang telah lama terpisah, Akhy ridwan datang untuk mengkhitbah, dari keluarga kami semua sudah oke, antara aku dan akhy juga sudah baik semua.

2 bulan kemudian kami menjalankan prosesi sakral, satu kali dalam hidup ini. malam sebelum acara puncak.. akhy datang untuk melihat kesiapan kami, ia melihatku yang sepertinya agak gugup’

“ ukhty tidak apa-apa kan…?”

“ tidak apa-apa akhy”

“Ukhty jaga kesehatan, jaga diri, jangan lupa banyak-banyak berdo’a, karena esok pagi adalah prosesi yang sangat sakral satu dalam hidup, kenapa saya bilang satu kaliu… karena saya ingin ukhty seorang yang menjadi zaujaty seumur hidup…”

“ Iya akhy… Insyaallah… Sayapun akan ikhlas lahir batin untuk menjalaninya, sayapun hanya ingin akhy seorang yang menjadi surga dan zaujy fidduniya wal akhiraty..”

“ ya udah… sekarang ukhty istirahat ya..”

Dag… Dig… Dug… Pagipun datang, hatiku tak hentinya deg-degan, fikiranku selalu gugup, grogi, mengingat dua nama insan anak manusia “ Ridwan Faqih Maulana Asyfi & Annisa Khumaira Zidna Nurrobi”  Akan bersanding dan merajut rumah tangga, raut bahagia itu tertoreh dari wajah semua tamu yang hadir didalam majlis terutama kami berdua, ketika para saksi menyatakan “saaahhh”. Alhamdulillah…. Muai hari itu aku telah halal untuk akhy ku, untuk Habibiku, untuk sang pembimbing & imamku, kan kuberikan seluruh jiwa, raga, dan nafas ini untuk syurga yang Allah kirim untukku.

 

30 Juni 2020

 

Setelah sang arjuna kembarku terlelap, ku bangunkan abi mereka,

“Abi..”

“Iya… kenapa mi….?”

“Abi bangun dong temenin umi… “

“emmm… Abang Hasan sama kakak Husen udah tidur mi?”

“Udah baru aja…. Makanya umi udahin critanya…”

“mmmm….. “

“ Abi bangun dong bi….”

“ Iya umi sayang…… ini abi bangun, kenapa???”

“Temenin umi “

“mmmm… memangnya istriku sayang belum ngantuk???”

“belum bisa tidur bi….”

“Iya deh iya ditemenin…. Oh ya tadi cerita apa?”

“mmmm… Cerita masa lalu kita… J”

“Ha…. Emang mereka paham? Baru aja bisa tengkurap mi….” (mencubit hidungku)

“iya biarin… abis abinya ndak mau nemenin tadi kok….”

“iya deh iya…. Maafin abi ya mi….”

“kalau begitu sekarang gantian abi yang dongengin umi sampai tidur”

“Dongeng apa maunya???”

Kemudian kami beranjak untuk tidur, kusandarkan kepalaku di bahu suami tercintaku.

“Ayo bi…. Abi nggak bisa dongeng, maaf ya…”

“Ya sudah kalau begitu abi sholawatan aja”

“Ya deh….”

Kemudian zauj tersayangku bersenandung dengan begitu indah, mengantarku menuju indahnya mimpi dengan suaranya yang menggetarkan hati, yang satu itu yang selalu membuat bibir ini tak henti-hentinya tersenyum. Beberapa saat kemudian mataku sudah terlelap dan kamipun berpetualang dalam mimpi indah masing-masing.

THE END

HAPPY ENDING FULL BAROKAH

Kembali ke Bagian (1) (2)

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.